Jendelaku Kini…
18 Jan 2013

Magelang

Author: arsimurti | Filed under: Sejarah

Sejarah Magelang

Untuk menelusuri kembali sejarah Kota Magelang, sumber prasasti yang digunakan adalah Prasasti Poh, Prasasti Gilikan dan Prasasti Mantyasih. Ketiganya merupakan parsasti yang ditulis diatas lempengan tembaga.
Prasasti Poh dan Mantyasih ditulis zaman Mataram Hindu saat pemerintahan Raja Rake Watukura Dyah Balitung (898-910 M), dalam prasasti ini disebut-sebut adanya Desa Mantyasih dan nama Desa Glangglang. Mantyasih inilah yang kemudian berubah menjadi Meteseh,sedangkan Glangglang berubah menjadi Magelang.
Dalam Prasasti Mantyasih berisi antara lain, penyebutan nama Raja Rake Watukura Dyah Balitung, serta penyebutan angka 829 Çaka bulan Çaitra tanggal 11 Paro-Gelap Paringkelan Tungle, Pasaran Umanis hari Senais Sçara atau Sabtu, dengan kata lain Hari Sabtu Legi tanggal 11 April 907. Dalam Prasasti ini disebut pula Desa Mantyasih yang ditetapkan oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung sebagai Desa Perdikan atau daerah bebas pajak yang dipimpin oleh pejabat patih. Juga disebut-sebut Gunung Susundara dan Wukir Sumbing yang kini dikenal dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Setelah melalui masa jaya sekitar dua abad, wilayah Mantyasih menghilang akibat letusan gunung berapi, berbarengan juga dengan hilangnya wilayah Kedu dan Mataram Hindhu dari panggung sejarah. Nama Kedu baru muncul lagi setelah terbentuknya pusat kekuasaan baru, yaitu Mataram di Yogyakarta sebagai wilayah nagaragung (kerajaan). Kedu berkembang sebagai daerah hinterland Mataram dan menjadi gudang bahan pangan bagi kerajaan itu.
Magelang pada waktu itu merupakan daerah perkebunan raja, atau kebon dalem, milik Sri Sunan Pakubuwono. Ini dibuktikan dengan adanya artefak yang sampai saat ini masih ada berupa kawasan dengan nama yang khas, berkaitan dengan buah dan sayuran hasil kebun. Kawasan itu terletak sepanjang kampung Potrobangsan sampai kampung Bayeman yang merupakan deretan kebun, antara lain kebun kopi (Botton Koppen), kebun pala (Kebonpolo), kebun kemiri (Kemirikerep), kebun jambu (Jambon) dan kebun bayem (Bayeman). Dari beberapa data di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kota lama menurut versi “kerajaan” pada awalnya adalah daerah Mantyasih, yang kemudian berkembang ke arah Timur dengan batas wilayahnya di sekitar Bayeman sampai Potrobangsan dengan pusat di kelurahan yang saat itu disebut Kebondalem.

Prasasti Poh

Prasasti Poh (905 M) terletak di Kampung Poh (sekarang Dumpoh). Timbul Haryono,1994 dalam disertasinya banyak menceritakan tentang Prasasti Poh. Menyebutkan tentang adanya daerah perdikan di daerah Poh daerah untuk persembahan. Isi Prasasti Poh antara lain (….. wanua poh muang anak wanua i rumasan, ring nyu kapua watak kiniwang….. poh 827 C) yang artinya wanua poh mempunyai anak wanua rumasan dan Nyu, semuanya termasuk lungguh anak pamgat kiniwang artinya desa poh, dusun rumasan dan dusun nyu semuanya termasuk lungguh kinawang. Prasasti ini juga menceritakan para tetua di desa Poh, di Rumasan, di Nyu yang mempersembahakan pasak-pasak kepada Sri Maharaja berupa kain jenis jaro 1 yugala dan mas pageh 5 suwarna. Prasasti Poh (905 M) menyebutkan sekelompok seniman yang ikut hadir pada upacara penetapan sima di Poh mendapat pasek-pasek. Mereka adalah pemain musik (penabuh) dan penari.

Prasasti Mantyasih

Prasasti Mantyasih, 907 M, menceritakan bahwa Kota Magelang mengawali sejarah sebagai desa perdikan “Mantyasih” yang berarti beriman dalam cinta kasih dan di tempat itu terdapat lumpang batu yang diyakini masyarakat sebagai tempat upacara penetapan Sima atau perdikan (Dinas Pariwisata Magelang, 2000).
Petilasan Prasasti Mantyasih beradi di kampong Meteseh Kidul, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang. Berawal dari sebuah desa perdikan “Mantyasih” yang mengandung arti beriman dalam cinta kasih.
Penetapan desa Mantyasih tertulis pada Prasasti Mantyasih tanggal 11 April 907 M oleh Raja Dyah Balitung yang kemudian menjadi dasar penetapan hari jadi Magelang. Desa tersebut berada di sebelah barat Kota Magelang dan sekarang disebut dengan nama Meteseh.


Tags: , ,

Facebook comments

Leave a Reply